Jumat, 06 November 2015

Laporan Buku



LAPORAN BUKU PERENCANAAN PANGAN DAN GIZI KARYA SUHARDJO
Rita Oktaviani
                 D3 Keperawatan Gigi

A.    Pendahuluan
Masalah perancangan pangan dan gizi saat ini masih menjadi momok masalah dibeberapa Negara, terutama negara-negara yang sedang berkembang. Kurang tepatnya perencanaan  pangan dan gizi  dalam jangka panjang atau jangka pendek mengakibatkan terjadinya inflasi, harga minyak, dan kebutuhan masyarakat membawa pengaruh pada pendapatan masyarakat.
Terjadinya krisis pangan dan gizi yang diakibatkan dari inflansi, tingginya harga minyak dan kebutuhan pangan masyarakat di Negara berkembang, mengakibatkan tidak seimbangnya pendapatan, dan perubahan kegitan ekonomi. Perubahan ini masih cukup asing bagi negara berkembang. Negara berkembang lebih memfokuskan pada kegiatan ekonomi dikarenakan keterbatasan dana, personel  yang kurang terdidik dan masih rendahnya teknologi sehingga masalah pangan dan gizi kurang tertangani dengan maksimal.
Masalah pangan dan gizi menjadi hal penting yang harus lebih diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat. Buku Perencanaan Pangan dan Gizi karya Suhardjo ini akan membahas tentang pentingnya pangan dan gizi serta bagaimana cara mengatasi krisis yang terkadang sering menimpa negara berkembang.
Buku Perencanaan Pangan dan Gizi karya Suhardjo merupakan buku yang terbilang cocok bagi bangsa Indonesia yang sedang memperbaiki ketahanan pangan dan gizi. Buku ini diterbitkan pada tahun 2005 oleh Bumi Aksara. buku dengan 100 halaman.;24cm diterbitkan atas kerja sama dengan Pusat Antar Universitas – Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.
Buku Perencanaan pangan dan Gizi karya Suhardjo terdiri atas 9 bab. Buku ini menjelaskan cara perbaikan jangka pendek dan jangka panjang dalam perbaikan pangan dan gizi.  Buku ini jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat negara berkembang yang sedang memperbaiki pertahanan pangan dan gizinya.
Sejalan dengan perkembangan bangsa Indonesia, buku Perencanaan Pangan dan Gizi karya Suhardjo merupakan salah satu buku penting untuk dikaji. Oleh sebab itu, penulis tertarik melakukan pengkajian terhadap isi buku tersebut yang hasilnya penulis susun dalam bentuk laporan buku.

B.     Ringkasan Isi Buku
Buku berjudul “Perencanaan Pangan dan Gizi” karya Suhardjo terdiri atas 9 bab. Pada setiap babnya dikemukakan secara ringkas tentang kebijakan dan perencanan serta masalah gizi pada negara berkembang. Secara lebih terperinci isi buku tersebut dapat penulis uraikan sebagai berikut.
      Paragraf awal pada bab 1 buku Perencanaan Pangan dan Gizi. Suhardjo mengatakan dengan jelas bahwa pemerintah lebih memperhatikan situasi ekonomi, sementara masalah pangan dan gizi hanya ditangani dalam keadaan yang sudah gawat dengan penanganan segera dalam jangka pendek saja. Suhardjo menjelaskan bahwa masalah pangan dan gizi masih kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pemerintah seolah menyepelekan masalah pangan dan gizi dengan melakukan penanganan segera dan dalam jangka pendek.
      Dalam kenyataannya, meningkatkan harga pangan, menurunnya bantuan pangan internasional dan bertambahnya pengangguran serta masalah rendahnya pendapatan, telah menguatkan hasrat untuk mengadakan perencanaan jangka menengah dan jangka panjang dibidang kebijakan pangan dan gizi. Kebijakan pangan dan gizi harus merupakan bagian integral dalam setiap kegiatan perencanaan. Beberapa kejadian krisis pangan telah memberikan pelajaran dan alternatif cara penanganannya.
      Perencanaan adalah metode dan prosedur yang teratur untuk merumuskan keputusan yang mantap pada tingkat pemerintah untuk melaksanakan kebijakan di bidang pangan dan gizi. Namun bagaimanapun baiknya teknik perencanaan, kualitas keputusan yang diambil tetap tergantung pada unsur manusia, finansial, sumber daya dan didukung oleh kemauan politik pemerintah.
      Beberapa hal pokok yang harus diusahakan dalam peningkatan pangan dan gizi, yaitu :
1.      Dukungan politik dan pemerintah
2.      Perencanaan
3.      Sumberdaya ekonomi
4.      Tenaga adminnistrasi
5.      Struktur kelembagaan
Akhir-akhir ini konsep pengembangan investasi dikembangkan sampai kepada investasi sumberdaya manusia. Sebagai contohnya perkembangan ekonomi yang sangat nyata seperti di Amerika dan Eropa Barat akibat dari faktor peningkatan pendidikan dan pengetahuan.
Usaha yang serupa adalah mengetahui manfaat ekonomi dari investasi bidang gizi. Perbaikan bidang gizi yang membuat pekerja absen menjadi tidak absen, atau membantu memperpanjang masa kerja, atau menaikan kemampuan produktivitas kerja. Perbaikan gizi mempunyai manfaat yang nyata pada perkembangan ekonomi, kesehatan dan kualitas hidup manusia.
Suatu pengukuran manfaat daripada progam gizi adalah penghematan biaya kesehatan dan pengobatan. Hampir setengah juta pasien rumah sakit dari 37 negara berkembang tercatat secara resmi karena penyakit kurang gizi. Manfaat perbaikan gizi di negara sedang berkembang adalah berkurangnya kehilangan produktivitas karena kelemahan buruh ( pekerja ) yang mengalami gizi kurang.
Beberapa keuntungan  progam gizi sebagai berikut :
-          Menurunkan angka kesakitan penduduk
-          Meningkatkan pendapatan penduduk
-          Meningkatkan kesehatan dan kemampuan ibi-ibu dalam memelihara anak-anak
-          Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia pada umumnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap gizi yaitu ;
a.        Faktor pertanian
b.      Faktor ekonomi
c.       Faktor budaya
d.      Faktor fisiologi
e.       Faktor infeksi
Faktor-faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan progam untuk meningkatkan pangan dan gizi yang lebih baik antara lain :
-          Hasil produksi pertanian dan pembelian jenis bahan makanan ( impor ) merupakan dasar  yang menentukan tingkat penyediaan pangan dan zat gizi.
-          Variasi jenis makanan yang dikomsumsikan terutama tergantung pada variasi dan komposisi hasil produksi pertanian setempat.
-          Perlu adanya penyuluhan untuk meningkatkan pengertian tentang kebutuhan gizi dan adanya tindakan-tindakan yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi konsumen dalam memilih makanan.
Kebijakan pangan dan gizi dapat merupakan progam-progam khusus seperti :
-          Distribusi bahan makanan yang bernilai gizi tinggi atau dengan member subsidi kepada kelompok masyarakat tertentu
-          Melaksanakan progam-progam sosial untuk sebagian kecil masyarakat
-          Progam pemberian makanan tambahan untuk golongan rawan atau golongan khusus.
Langkah-langkah perencanaan pangan dan gizi adalah :
a.       Penilaian situasi kini
b.      Penepatan tujuan dan sasaran
c.       Penyusun strategi pedoman
d.      Penahapan pelaksanaan
Pendekatan perencanaan pangan dan gizi yaitu dengan memperhatikan hal-hal berikut :

-          Persediaan pangan

-          Konsumsi pangan
-          Evaluasi status konsumsi pangan dan gizi
Beberapa model perencanaan pangan dan gizi diantaranya
1.      Model Julien perisse
a.       Kebutuhan akan perencanaan
b.      Variable makro dan model perencanaan
c.       Model permintaan, kebutuhan dan suplai
d.      Fungsi perencanaan pangan dan gizi
2.      Model Javier Toro
a.       Perencanaan
b.      Menentukan situasi gizi
c.       Persediaan
d.      Permintaan
e.       Bantuan intrnasional
3.      Model Delphi
a.       Metode Evaluasi
b.      Perumusan Terminologi
c.       Asumsi Dasar
d.      Topik yang Kontrovesional
e.       Pernyataan Kebijakan
f.       Prosedur Analisis
g.      Kesimpulan
4.      Model Johanna T. Dwyer dan Dean Jean Mayer
a.       Kelemahan model yang ada
b.      Model permintaan terkontrol
c.       Persyaratan perencanaan terpadu
d.      Peranan ahli gizi
e.       Analisis gizi dan social ekonomi
f.       Gizi dan perencanaan pengembangan ekonomi
   
Progam-progam gizi yang sedang dan telah dilaksanakan di Indonesia selama ini meliputi :
-          Kegiatan usaha perbaikkan gizi keluarga (UPKG)
-          Penanggulangan kekurangan vitamin A
-          Penanggulangn anemia gizi besi
-          Penggolongan gondok endemik
Kekurangan gizi dapat disebabkan oleh salah satu dari empat faktor penyebabnya yaitu :
-          Konsumsi pangan kurang, baik jumlah dan mutunya
-          Kekurangan salah satu atau lebih zat gizi yang dapat menimbulkan beberapa penyakit defistensi antara lain : marasmus, pellagra, skurvi polio dan anemia gizi
-          Karena menderita sakit, faktor keturunan atau karena lingkungan yang menyebabkan gangguan penyerapan zat gizi
-          Konsumsi pangan berlebih sehingga berakibat timbulnya beberapa penyakit gizi lebih.
Kegiatan yang dapat mendorong adanya pertimbangan gizi oleh pemerintah dan pemberi dana untuk perbaikan gizi dalam negri yang telah didahului dengan perencanaan nasional, kegiatan tersebut antara lain :
-          Menilai pelaksanaan rencana pengembangan gizi di sektor-sektor lain, seperti sektor pertanian
-          Penyuluhan gizi
-          Penilaian progam gizi yang sedang dilaksanakan
-          Menetapkan target keberhasilan yang telah ditentukan, serta pemilihan intervensi gizi


C.    Pembahasan
Perencanaan kebijakan pangan dan gizi jangka sedang dan jangka panjang tampaknya masih kurang tepat. Karena inflansi dan semakin tingginya harga minyak, dan lain-lain mengakibatkan adanya perubahan terhadap keseimbangan pendapatan, dan perubahan kegiatan ekonomi. Menurut Suhardjo, perubahan semacam ini merupakan hal yang masih asing bagi negara yang sedang berkembang dan dengan keterbatasan dana, personel yang kurang terdidik dan masih rendahnya pendidikan dan teknologi membuat masyarakat masih menyepelekan masalah pangan dan gizi.
Pemerintaha dalam mengatasi masalah perencanaan pangan dan gizi  mengadakan kebijakan pangan dan gizi dengan membuat progam-progam khusus, distribusi pangan yang meraata dan menyeluruh kepada masyarakat.
Usaha perbaikan gizi pun harus diperhatikan lebih mendalam oleh pemerintah.bahwasannya hampir setengah juta pasien rumah sakit dari 37 negara sedang berkembang tercatat secara resmi karena penyakit gizi kurang. Seandainya biaya rata-rata untuk merawat pasien tersebut $ 7.50 sehari selama Sembilan puluh hari, maka total biaya perawatan akan mencapai $ 340 juta setahun untuk 37 negara. Seandainya perawatan diberikan kepada kira-kira 10 juta anak prasekolah ( tiga persen dar 325 juta anak prasekolah di negara sedang berkembang ) yang menglami gizi buruk, maka biaya per tahun akan mencapai $ 6.8 trilyun ( Berg, 1986 )
Kebutuhan energi per hari menurut golongan pekerjaan dibandingkan dengan konsumsi riilnya dapat diperkirakan besarnya penurunan kemampuan kerja. Untuk negara-negara miskin penurunan kemampuan kerja cukup berarti , bahkan dapat mencapai 50%. Kalau data ini benar sementara produktivitas individual mempunyai hubungan dengan produktivitas nasional, maka adanya masalah gizi kurang/buruk sangat berpengaruh terhadap produk nasional.
Naiknya pendapatan per kapita akan menyebabkan meningkatnya jumlah permintaan akan pangan komersial, yang mungkin lebih besar daripada pertumbuhan penduduk non pertanian. Berdasarkan study biaya rumah tangga menunjukkan bahwa elastisitas pendapatan untuk permintaan makanan di negara sedang berkembang adalah sebanyak 0,7-0,8; misalnya peningkatan pendapatan sebanyak 10% menyebabkan bertambahnya pengeluaran untuk makanan per kapita sebesar 7-8%. Hal ini berbeda sekali dengan keadaan di negara-negara yang berpenghasilan tinggi, kenaikan pendapatan per kapita sebesar 10% akan menunjukkan kenaikan konsumsi pangan hanya 1-2%.
Mengurangi masalah gizi kurang berkaitan erat dengan pengurangan kemiskinan. Apabila hal ini benar  maka cara yang paling baik untuk mengurangi gizi kurang adalah dengan peningkatan tariff ekonomi atau pendapatan golongan miskin, sehubungan dengan itu tidak lagi diperlukan perhatian pada khusus pada tujuan gizi. Seandainya asumsi tersebut benar maka progam gizi tidaklah merupakan progam yang penting. Tetapi sebaliknya, apabila hal itu tidak benar, maka progam gizi harus ,menepati posisi yang penting sejajar dengan progam sektor  lainnya baik secara tersendiri maupun secara terpadu dengan progam lainnya.
Sekait dengan bahasan tentang gizi diatas buku yang ditulis oleh Suhardjo dapat membantu untuk perencanaan pangan dan gizi suatu negara khususnya negara kita yang sedang berkembang agar bisa bangkit dari keterpurukan tentang pangan dan gizi.sayangnya buku ini memuat kata-kata yang kadang sulit dimengerti oleh masyarakat tertentu. Namun,  buku ini pun cukup bagus untuk dibaca semua golongan karena masalah gizi suatu negara itu bukan hanya masalah pemerintah saja tetapi menjadi masalah kita semua selaku masyarakat.

D.    Penutup
Berdasarkan uraian singkat isi buku dan pembahasan pada bab sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Hal pertama yaitu bahwa masalah pangan dan gizi lebih banyak terjadi di negara yang sedang berkembang.adanya inflansi, dan naiknya harga minyak dan lain-lain juga menjadi pemicu pada masalah kurangnya gizi. Buku karya Suhardjo memiliki beberapa keungulan. Keunggulan utama adalah kejeliannya dalam membahas masalah pangan dan gizi negara yang sedang berkembang dan progam yang harus dibuat oleh pemerintah dalam mengatasi masalah pangan dan gizi.
Buku karya Suhardjo ini dapat digunakan sebagai acuan dasar dalam memperbaiki masalah pangan dan gizi yang terjadi pada negara berkembang, dan dapat menjadi bahan ajaran bagi kita bagaimana cara untuk memperkuat ketahanan pangan dan gizi.


Daftar Pustaka
Suhardjo. (2005) Perencanaan Pangan dan Gizi. Jakarta: Bumi Aksara.
Berg, A.(1986)Peranan Gizi dalam Pembangunan                                                         Nasional.(Terjemahan).Jakarta:Rajawali


Tidak ada komentar:

Posting Komentar