LAPORAN
BUKU PERENCANAAN PANGAN DAN GIZI KARYA SUHARDJO
Rita
Oktaviani
D3 Keperawatan Gigi
A.
Pendahuluan
Masalah
perancangan pangan dan gizi saat ini masih menjadi momok masalah dibeberapa
Negara, terutama negara-negara yang sedang berkembang. Kurang tepatnya
perencanaan pangan dan gizi dalam jangka panjang atau jangka pendek
mengakibatkan terjadinya inflasi, harga minyak, dan kebutuhan masyarakat
membawa pengaruh pada pendapatan masyarakat.
Terjadinya
krisis pangan dan gizi yang diakibatkan dari inflansi, tingginya harga minyak
dan kebutuhan pangan masyarakat di Negara berkembang, mengakibatkan tidak
seimbangnya pendapatan, dan perubahan kegitan ekonomi. Perubahan ini masih
cukup asing bagi negara berkembang. Negara berkembang lebih memfokuskan pada
kegiatan ekonomi dikarenakan keterbatasan dana, personel yang kurang terdidik dan masih rendahnya
teknologi sehingga masalah pangan dan gizi kurang tertangani dengan maksimal.
Masalah
pangan dan gizi menjadi hal penting yang harus lebih diperhatikan oleh
pemerintah dan masyarakat. Buku Perencanaan Pangan dan Gizi karya Suhardjo ini
akan membahas tentang pentingnya pangan dan gizi serta bagaimana cara mengatasi
krisis yang terkadang sering menimpa negara berkembang.
Buku
Perencanaan Pangan dan Gizi karya Suhardjo merupakan buku yang terbilang cocok
bagi bangsa Indonesia yang sedang memperbaiki ketahanan pangan dan gizi. Buku
ini diterbitkan pada tahun 2005 oleh Bumi Aksara. buku dengan 100 halaman.;24cm
diterbitkan atas kerja sama dengan Pusat Antar Universitas – Pangan dan Gizi
Institut Pertanian Bogor.
Buku
Perencanaan pangan dan Gizi karya Suhardjo terdiri atas 9 bab. Buku ini
menjelaskan cara perbaikan jangka pendek dan jangka panjang dalam perbaikan
pangan dan gizi. Buku ini jelas sangat
bermanfaat bagi masyarakat negara berkembang yang sedang memperbaiki pertahanan
pangan dan gizinya.
Sejalan
dengan perkembangan bangsa Indonesia, buku Perencanaan Pangan dan Gizi karya
Suhardjo merupakan salah satu buku penting untuk dikaji. Oleh sebab itu, penulis
tertarik melakukan pengkajian terhadap isi buku tersebut yang hasilnya penulis
susun dalam bentuk laporan buku.
B. Ringkasan Isi Buku
Buku
berjudul “Perencanaan Pangan dan Gizi” karya Suhardjo terdiri atas 9 bab. Pada
setiap babnya dikemukakan secara ringkas tentang kebijakan dan perencanan serta
masalah gizi pada negara berkembang. Secara lebih terperinci isi buku tersebut
dapat penulis uraikan sebagai berikut.
Paragraf awal pada bab 1 buku Perencanaan
Pangan dan Gizi. Suhardjo mengatakan dengan jelas bahwa pemerintah lebih
memperhatikan situasi ekonomi, sementara masalah pangan dan gizi hanya
ditangani dalam keadaan yang sudah gawat dengan penanganan segera dalam jangka
pendek saja. Suhardjo menjelaskan bahwa masalah pangan dan gizi masih kurang
mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pemerintah seolah menyepelekan masalah
pangan dan gizi dengan melakukan penanganan segera dan dalam jangka pendek.
Dalam kenyataannya, meningkatkan harga
pangan, menurunnya bantuan pangan internasional dan bertambahnya pengangguran
serta masalah rendahnya pendapatan, telah menguatkan hasrat untuk mengadakan
perencanaan jangka menengah dan jangka panjang dibidang kebijakan pangan dan
gizi. Kebijakan pangan dan gizi harus merupakan bagian integral dalam setiap
kegiatan perencanaan. Beberapa kejadian krisis pangan telah memberikan
pelajaran dan alternatif cara penanganannya.
Perencanaan adalah metode dan prosedur
yang teratur untuk merumuskan keputusan yang mantap pada tingkat pemerintah
untuk melaksanakan kebijakan di bidang pangan dan gizi. Namun bagaimanapun
baiknya teknik perencanaan, kualitas keputusan yang diambil tetap tergantung
pada unsur manusia, finansial, sumber daya dan didukung oleh kemauan politik
pemerintah.
Beberapa hal pokok yang harus diusahakan
dalam peningkatan pangan dan gizi, yaitu :
1.
Dukungan politik dan pemerintah
2.
Perencanaan
3.
Sumberdaya ekonomi
4.
Tenaga adminnistrasi
5.
Struktur kelembagaan
Akhir-akhir
ini konsep pengembangan investasi dikembangkan sampai kepada investasi
sumberdaya manusia. Sebagai contohnya perkembangan ekonomi yang sangat nyata
seperti di Amerika dan Eropa Barat akibat dari faktor peningkatan pendidikan
dan pengetahuan.
Usaha
yang serupa adalah mengetahui manfaat ekonomi dari investasi bidang gizi.
Perbaikan bidang gizi yang membuat pekerja absen menjadi tidak absen, atau
membantu memperpanjang masa kerja, atau menaikan kemampuan produktivitas kerja.
Perbaikan gizi mempunyai manfaat yang nyata pada perkembangan ekonomi,
kesehatan dan kualitas hidup manusia.
Suatu
pengukuran manfaat daripada progam gizi adalah penghematan biaya kesehatan dan
pengobatan. Hampir setengah juta pasien rumah sakit dari 37 negara berkembang
tercatat secara resmi karena penyakit kurang gizi. Manfaat perbaikan gizi di
negara sedang berkembang adalah berkurangnya kehilangan produktivitas karena
kelemahan buruh ( pekerja ) yang mengalami gizi kurang.
Beberapa
keuntungan progam gizi sebagai berikut :
-
Menurunkan angka kesakitan penduduk
-
Meningkatkan pendapatan penduduk
-
Meningkatkan kesehatan dan kemampuan
ibi-ibu dalam memelihara anak-anak
-
Meningkatkan kemampuan sumber daya
manusia pada umumnya
Faktor-faktor
yang mempengaruhi terhadap gizi yaitu ;
a. Faktor pertanian
b. Faktor
ekonomi
c. Faktor
budaya
d. Faktor
fisiologi
e. Faktor
infeksi
Faktor-faktor
penting yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan progam untuk meningkatkan
pangan dan gizi yang lebih baik antara lain :
-
Hasil produksi pertanian dan pembelian
jenis bahan makanan ( impor ) merupakan dasar
yang menentukan tingkat penyediaan pangan dan zat gizi.
-
Variasi jenis makanan yang dikomsumsikan
terutama tergantung pada variasi dan komposisi hasil produksi pertanian
setempat.
-
Perlu adanya penyuluhan untuk
meningkatkan pengertian tentang kebutuhan gizi dan adanya tindakan-tindakan
yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi konsumen dalam memilih makanan.
Kebijakan
pangan dan gizi dapat merupakan progam-progam khusus seperti :
-
Distribusi bahan makanan yang bernilai
gizi tinggi atau dengan member subsidi kepada kelompok masyarakat tertentu
-
Melaksanakan progam-progam sosial untuk
sebagian kecil masyarakat
-
Progam pemberian makanan tambahan untuk
golongan rawan atau golongan khusus.
Langkah-langkah
perencanaan pangan dan gizi adalah :
a.
Penilaian situasi kini
b.
Penepatan tujuan dan sasaran
c.
Penyusun strategi pedoman
d.
Penahapan pelaksanaan
Pendekatan
perencanaan pangan dan gizi yaitu dengan memperhatikan hal-hal berikut :
- Persediaan pangan
-
Konsumsi pangan
-
Evaluasi status konsumsi pangan dan gizi
Beberapa
model perencanaan pangan dan gizi diantaranya
1.
Model Julien perisse
a. Kebutuhan
akan perencanaan
b. Variable
makro dan model perencanaan
c. Model
permintaan, kebutuhan dan suplai
d. Fungsi
perencanaan pangan dan gizi
2.
Model Javier Toro
a. Perencanaan
b. Menentukan
situasi gizi
c. Persediaan
d. Permintaan
e. Bantuan
intrnasional
3.
Model Delphi
a. Metode
Evaluasi
b. Perumusan
Terminologi
c. Asumsi
Dasar
d. Topik
yang Kontrovesional
e. Pernyataan
Kebijakan
f. Prosedur
Analisis
g. Kesimpulan
4.
Model Johanna T. Dwyer dan Dean Jean
Mayer
a. Kelemahan
model yang ada
b. Model
permintaan terkontrol
c. Persyaratan
perencanaan terpadu
d. Peranan
ahli gizi
e. Analisis
gizi dan social ekonomi
f. Gizi
dan perencanaan pengembangan ekonomi
Progam-progam
gizi yang sedang dan telah dilaksanakan di Indonesia selama ini meliputi :
-
Kegiatan usaha perbaikkan gizi keluarga
(UPKG)
-
Penanggulangan kekurangan vitamin A
-
Penanggulangn anemia gizi besi
-
Penggolongan gondok endemik
Kekurangan
gizi dapat disebabkan oleh salah satu dari empat faktor penyebabnya yaitu :
-
Konsumsi pangan kurang, baik jumlah dan
mutunya
-
Kekurangan salah satu atau lebih zat
gizi yang dapat menimbulkan beberapa penyakit defistensi antara lain :
marasmus, pellagra, skurvi polio dan anemia gizi
-
Karena menderita sakit, faktor keturunan
atau karena lingkungan yang menyebabkan gangguan penyerapan zat gizi
-
Konsumsi pangan berlebih sehingga
berakibat timbulnya beberapa penyakit gizi lebih.
Kegiatan
yang dapat mendorong adanya pertimbangan gizi oleh pemerintah dan pemberi dana
untuk perbaikan gizi dalam negri yang telah didahului dengan perencanaan
nasional, kegiatan tersebut antara lain :
-
Menilai pelaksanaan rencana pengembangan
gizi di sektor-sektor lain, seperti sektor pertanian
-
Penyuluhan gizi
-
Penilaian progam gizi yang sedang
dilaksanakan
-
Menetapkan target keberhasilan yang telah
ditentukan, serta pemilihan intervensi gizi
C. Pembahasan
Perencanaan
kebijakan pangan dan gizi jangka sedang dan jangka panjang tampaknya masih
kurang tepat. Karena inflansi dan semakin tingginya harga minyak, dan lain-lain
mengakibatkan adanya perubahan terhadap keseimbangan pendapatan, dan perubahan
kegiatan ekonomi. Menurut Suhardjo, perubahan semacam ini merupakan hal yang
masih asing bagi negara yang sedang berkembang dan dengan keterbatasan dana,
personel yang kurang terdidik dan masih rendahnya pendidikan dan teknologi
membuat masyarakat masih menyepelekan masalah pangan dan gizi.
Pemerintaha
dalam mengatasi masalah perencanaan pangan dan gizi mengadakan kebijakan pangan dan gizi dengan
membuat progam-progam khusus, distribusi pangan yang meraata dan menyeluruh
kepada masyarakat.
Usaha
perbaikan gizi pun harus diperhatikan lebih mendalam oleh
pemerintah.bahwasannya hampir setengah juta pasien rumah sakit dari 37 negara
sedang berkembang tercatat secara resmi karena penyakit gizi kurang. Seandainya
biaya rata-rata untuk merawat pasien tersebut $ 7.50 sehari selama Sembilan
puluh hari, maka total biaya perawatan akan mencapai $ 340 juta setahun untuk
37 negara. Seandainya perawatan diberikan kepada kira-kira 10 juta anak
prasekolah ( tiga persen dar 325 juta anak prasekolah di negara sedang
berkembang ) yang menglami gizi buruk, maka biaya per tahun akan mencapai $ 6.8
trilyun ( Berg, 1986 )
Kebutuhan
energi per hari menurut golongan pekerjaan dibandingkan dengan konsumsi riilnya
dapat diperkirakan besarnya penurunan kemampuan kerja. Untuk negara-negara
miskin penurunan kemampuan kerja cukup berarti , bahkan dapat mencapai 50%.
Kalau data ini benar sementara produktivitas individual mempunyai hubungan
dengan produktivitas nasional, maka adanya masalah gizi kurang/buruk sangat
berpengaruh terhadap produk nasional.
Naiknya
pendapatan per kapita akan menyebabkan meningkatnya jumlah permintaan akan
pangan komersial, yang mungkin lebih besar daripada pertumbuhan penduduk non
pertanian. Berdasarkan study biaya rumah tangga menunjukkan bahwa elastisitas
pendapatan untuk permintaan makanan di negara sedang berkembang adalah sebanyak
0,7-0,8; misalnya peningkatan pendapatan sebanyak 10% menyebabkan bertambahnya
pengeluaran untuk makanan per kapita sebesar 7-8%. Hal ini berbeda sekali
dengan keadaan di negara-negara yang berpenghasilan tinggi, kenaikan pendapatan
per kapita sebesar 10% akan menunjukkan kenaikan konsumsi pangan hanya 1-2%.
Mengurangi
masalah gizi kurang berkaitan erat dengan pengurangan kemiskinan. Apabila hal
ini benar maka cara yang paling baik
untuk mengurangi gizi kurang adalah dengan peningkatan tariff ekonomi atau
pendapatan golongan miskin, sehubungan dengan itu tidak lagi diperlukan
perhatian pada khusus pada tujuan gizi. Seandainya asumsi tersebut benar maka
progam gizi tidaklah merupakan progam yang penting. Tetapi sebaliknya, apabila
hal itu tidak benar, maka progam gizi harus ,menepati posisi yang penting
sejajar dengan progam sektor lainnya
baik secara tersendiri maupun secara terpadu dengan progam lainnya.
Sekait
dengan bahasan tentang gizi diatas buku yang ditulis oleh Suhardjo dapat
membantu untuk perencanaan pangan dan gizi suatu negara khususnya negara kita
yang sedang berkembang agar bisa bangkit dari keterpurukan tentang pangan dan
gizi.sayangnya buku ini memuat kata-kata yang kadang sulit dimengerti oleh
masyarakat tertentu. Namun, buku ini pun
cukup bagus untuk dibaca semua golongan karena masalah gizi suatu negara itu
bukan hanya masalah pemerintah saja tetapi menjadi masalah kita semua selaku
masyarakat.
D. Penutup
Berdasarkan
uraian singkat isi buku dan pembahasan pada bab sebelumnya, penulis dapat
menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Hal pertama yaitu bahwa masalah
pangan dan gizi lebih banyak terjadi di negara yang sedang berkembang.adanya
inflansi, dan naiknya harga minyak dan lain-lain juga menjadi pemicu pada
masalah kurangnya gizi. Buku karya Suhardjo memiliki beberapa keungulan.
Keunggulan utama adalah kejeliannya dalam membahas masalah pangan dan gizi
negara yang sedang berkembang dan progam yang harus dibuat oleh pemerintah
dalam mengatasi masalah pangan dan gizi.
Buku
karya Suhardjo ini dapat digunakan sebagai acuan dasar dalam memperbaiki
masalah pangan dan gizi yang terjadi pada negara berkembang, dan dapat menjadi
bahan ajaran bagi kita bagaimana cara untuk memperkuat ketahanan pangan dan
gizi.
Daftar Pustaka
Suhardjo.
(2005) Perencanaan Pangan dan Gizi.
Jakarta: Bumi Aksara.
Berg,
A.(1986)Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional.(Terjemahan).Jakarta:Rajawali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar