Selasa, 03 November 2015

Dibatas Senja



Di batas senja
Sudah lama kutinggalkan cerita yang kini mulai usang. Menyusuri jalan kerikil seorang diri melupakan indahnya menjadi seorang pujangga. Haa.. pujangga! Hal yang paling kusukai dulu kala aku sedang jatuh cinta. Yaa jatuh cinta padamu. Hanya padamu, dan kini kau sia-siakan semua setelah sekian lama kita bersama. Yaa bersama, selama ini kita bersama tapi tidak menyatu. Ingin rasanya aku tertawai kisah kita ini. Akukah yang  bodoh selama ini ?
Setelah semua yang telah terjadi hari ini aku putuskan untuk pergi. Meninggalkan jejak-jejak kita dulu. Hidup kadang terlalu aneh. Kau yang kuyakini akan selalu bersama hidupku kini meninggalkanku yang untuk beberapa detik masih menatap kepergian punggungmu, saat ini jangan harap aku akan berbaik hati menunggumu disini, ditempat dimana kau meninggalkan aku sendiri dengan bayanganmu. Maaf aku berhenti mengharapkanmu kembali.
………………………
Inilah kota keduaku setelah kota kelahiranku. Kota yang menjadi tempat pelarianku dari mu. Kota yang akan menjadi saksi bagaimana salahnya aku  mempercayaimu dulu. Kota yang akan mempertemukan aku dengan kehidupan baru, dengan orang-orang baru. Dan meninggalkan kisah usang kita.. aku harap kau takan mencariku dikemudian hari saat aku telah menemukan seseorang yang mampu berdiri disampingku dengan tak memiliki alasan.
1095 hari aku telah berjalan sendiri, aku tak menyangka bahwa hari ini  akan ada yang mengusik ,kesendirianku. Dia telah berhasil mencuri semua perhatianku. Dia berbeda, seorang gadis yang anggun dalam kesederhanaan. Itulah menurutku..
“hai putri siapakah namamu ?” ingin rasanya aku menyapanya seperti itu setiap kali aku bertemu dengannya. Tapi setelah sekian lama aku terbiasa sendiri rasanya insting kelakianku menghilang entah kemana,
“maaf, boleh saya ikut duduk disini ?” ditengah lamunanku yang indah tentang sang putri  pencuri perhatian itu tak kusangka dia sekarang sedang berdiri disampingku. Ia tersenyum,
Senyumnya, oh tuhan … indah sekali.
“oh iya boleh”  ucapku sambil memberikan tempat untuk ia “putri pujaanku” duduk didekatku. Ini pertama kalinya kau dekat, sangat dekat dengan dia. Jantungku berdegup kencang sekali, jika seandainya suasana di tempat ini hening sekali mungkin dia akan bisa mendengar suara degub jantungku yang begitu kencang.
3600 detik sudah dia ‘putri pujaanku’ duduk disampingku. 3600 detik yang begitu indah bagiku. Seandainya ada saja sedikit kekuatan bagiku untuk hanya sekedar menyapanya. Menanyakan namanya dan dimana rumahnya. Haa,, aku kehilangan kesempatan hanya karena ketidak beranianku sendiri. Lelaki macam apa aku ini ?. tapi perlu kalian tau cinta bisa membuat keberanian hilang.. benarkah seperti itu ? haha tak masuk akal.. kau bilang tak masuk akal ? yaa karena cinta memang tak pernah masuk akal.
………………………………..
Hari ini hujan turun begitu deras, aku sedang mengamati orang-orang yang ketakutan karena hujan.  Entah apa yang mereka takutkan. Lucu rasanya melihat tingkah laku mereka.
Tidak jauh dari tempatku, aku melihat seorang gadis sedang berlari mencari tempat berteduh. Tubuhnya sudah setengah basah, dia berteduh ditempatku berteduh, bajunya sebagian besar sudah basah saat sampai ditempat aku berdiri sekarang, tubuhnya menggigil.. ‘putri pujaanku’ ..
Tidak sampai hati aku melihat keadaanya yang seperti itu, ini seperti cara tuhan mengetes kelakianku.. sedikit demi sedikit ku kumpulkan keberanian, aku lepaskan jaket yang sedang kupakai dan keberanian yang hanya sebesar biji papaya aku dengan jantung berdebar-debar menyodorkan jaketku pada gadis pujaanku yang tengah kedinginan itu “ mba kedinginan, ini pakai jaket saya” awalnya dia menolak tapi aku yang terus memaksa dengan alasan takut dia masuk angin akhirnya dia menggambil jaketku dan memakainya. Ahh lega rasanya hatiku..
“saya Nadin, kita sering bertemu tapi saya tidak tau nama mas” ucapnya dilatar belakangi suara hujan.
Nadin, nama yang cantik secantik orangnya, pujiku dalam hati.
“saya Arena, mba gapernah nanya nama saya sih” aku tertawa, ia tersenyum..
“aduh  mas, jangan panggil mba kaya udah tua jadinya saya” dia tertawa. “panggil saja saya adin”
Aku panggil kau putri saja ya, ucapku dalam hati kaulebih cocok ku panggil putri.
“kalo gitu, jangan panggil saya mas juga, panggil are aja. Setuju ? “
“setuju”
Kejadian tadi sore sulit aku lupakan, betapa dewi fortuna sedang memihak kepadaku hari ini. Nadin akhirnya aku tau nama dia, aku tak tau bagaimana melukiskan perasaan ini. Rasanya sungguh bahagia.
730 hari setelah aku berkenalan tanpa disengaja dengan nadin ‘gadis pujaanku’, baru hari ini lah aku beranikan diri untuk mengatakan perasaanku padanya. Aku sudah hafal betul dia sedang dimana saat ini. Setiap sore dia punya rutinitas khusus memandangi langit sore ditepi danau, hobinya.. hobby yang sangat cantik menurutku.. tanpa ragu aku berangkat menuju danau,
Benar bukan kataku, dia sedang berada di danau, ah siluet itu sungguh serasi dengan dilator belakangi langit senja yang begitu jingga. Indah sungguh indah.
“Melamun ditepi danau lagi ?” tanyaku dari belakang “nanti di gangguin sama hantu danau baru tau rasa” candaku
“Are, haha aku sedang berkencan dengan hantu danau, asal kamu tau” dia tertawa
Aku suka melihat tawanya.. aku duduk disampingnya ..
“Adin?”
“ iya re ?”
“Aku suka kamu”
Nadin tak menjawab, ia hanya menatap mataku. Seolah-olah dia melihat orang lain ..
“Aku pernah terluka oleh orang yang aku suka Din, 3 tahun aku tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, tapi semenjak aku bertemu dengan mu semuanya berbeda, aku menemukan diriku sendiri didalam dirimu”
“Nadin, maukah kamu jadi teman hidupku. Selamanya ?”
Nadin tersenyum lalu mengangguk “Semuanya ada padamu re, termasuk diriku”
 …..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar