Di batas senja
Sudah lama
kutinggalkan cerita yang kini mulai usang. Menyusuri jalan kerikil seorang diri
melupakan indahnya menjadi seorang pujangga. Haa.. pujangga! Hal yang paling
kusukai dulu kala aku sedang jatuh cinta. Yaa jatuh cinta padamu. Hanya padamu,
dan kini kau sia-siakan semua setelah sekian lama kita bersama. Yaa bersama,
selama ini kita bersama tapi tidak menyatu. Ingin rasanya aku tertawai kisah
kita ini. Akukah yang bodoh selama ini ?
Setelah semua
yang telah terjadi hari ini aku putuskan untuk pergi. Meninggalkan jejak-jejak
kita dulu. Hidup kadang terlalu aneh. Kau yang kuyakini akan selalu bersama
hidupku kini meninggalkanku yang untuk beberapa detik masih menatap kepergian
punggungmu, saat ini jangan harap aku akan berbaik hati menunggumu disini,
ditempat dimana kau meninggalkan aku sendiri dengan bayanganmu. Maaf aku
berhenti mengharapkanmu kembali.
………………………
Inilah kota
keduaku setelah kota kelahiranku. Kota yang menjadi tempat pelarianku dari mu.
Kota yang akan menjadi saksi bagaimana salahnya aku mempercayaimu dulu. Kota yang akan
mempertemukan aku dengan kehidupan baru, dengan orang-orang baru. Dan
meninggalkan kisah usang kita.. aku harap kau takan mencariku dikemudian hari
saat aku telah menemukan seseorang yang mampu berdiri disampingku dengan tak
memiliki alasan.
1095 hari aku
telah berjalan sendiri, aku tak menyangka bahwa hari ini akan ada yang mengusik ,kesendirianku. Dia
telah berhasil mencuri semua perhatianku. Dia berbeda, seorang gadis yang
anggun dalam kesederhanaan. Itulah menurutku..
“hai putri
siapakah namamu ?” ingin rasanya aku menyapanya seperti itu setiap kali aku
bertemu dengannya. Tapi setelah sekian lama aku terbiasa sendiri rasanya
insting kelakianku menghilang entah kemana,
“maaf, boleh
saya ikut duduk disini ?” ditengah lamunanku yang indah tentang sang putri pencuri perhatian itu tak kusangka dia
sekarang sedang berdiri disampingku. Ia tersenyum,
Senyumnya, oh tuhan … indah
sekali.
“oh iya
boleh” ucapku sambil memberikan tempat
untuk ia “putri pujaanku” duduk didekatku. Ini pertama kalinya kau dekat,
sangat dekat dengan dia. Jantungku berdegup kencang sekali, jika seandainya
suasana di tempat ini hening sekali mungkin dia akan bisa mendengar suara degub
jantungku yang begitu kencang.
3600 detik
sudah dia ‘putri pujaanku’ duduk disampingku. 3600 detik yang begitu indah
bagiku. Seandainya ada saja sedikit kekuatan bagiku untuk hanya sekedar
menyapanya. Menanyakan namanya dan dimana rumahnya. Haa,, aku kehilangan
kesempatan hanya karena ketidak beranianku sendiri. Lelaki macam apa aku ini ?.
tapi perlu kalian tau cinta bisa membuat keberanian hilang.. benarkah seperti
itu ? haha tak masuk akal.. kau bilang tak masuk akal ? yaa karena cinta memang
tak pernah masuk akal.
………………………………..
Hari ini hujan
turun begitu deras, aku sedang mengamati orang-orang yang ketakutan karena
hujan. Entah apa yang mereka takutkan.
Lucu rasanya melihat tingkah laku mereka.
Tidak jauh dari tempatku, aku
melihat seorang gadis sedang berlari mencari tempat berteduh. Tubuhnya sudah
setengah basah, dia berteduh ditempatku berteduh, bajunya sebagian besar sudah
basah saat sampai ditempat aku berdiri sekarang, tubuhnya menggigil.. ‘putri
pujaanku’ ..
Tidak sampai hati aku melihat
keadaanya yang seperti itu, ini seperti cara tuhan mengetes kelakianku..
sedikit demi sedikit ku kumpulkan keberanian, aku lepaskan jaket yang sedang
kupakai dan keberanian yang hanya sebesar biji papaya aku dengan jantung
berdebar-debar menyodorkan jaketku pada gadis pujaanku yang tengah kedinginan
itu “ mba kedinginan, ini pakai jaket saya” awalnya dia menolak tapi aku yang
terus memaksa dengan alasan takut dia masuk angin akhirnya dia menggambil
jaketku dan memakainya. Ahh lega rasanya hatiku..
“saya Nadin, kita sering bertemu
tapi saya tidak tau nama mas” ucapnya dilatar belakangi suara hujan.
Nadin, nama yang cantik secantik
orangnya, pujiku dalam hati.
“saya Arena, mba gapernah nanya
nama saya sih” aku tertawa, ia tersenyum..
“aduh mas, jangan panggil mba kaya udah tua jadinya
saya” dia tertawa. “panggil saja saya adin”
Aku panggil kau putri saja ya,
ucapku dalam hati kaulebih cocok ku panggil putri.
“kalo gitu, jangan panggil saya
mas juga, panggil are aja. Setuju ? “
“setuju”
Kejadian tadi sore sulit aku
lupakan, betapa dewi fortuna sedang memihak kepadaku hari ini. Nadin akhirnya
aku tau nama dia, aku tak tau bagaimana melukiskan perasaan ini. Rasanya
sungguh bahagia.
730 hari
setelah aku berkenalan tanpa disengaja dengan nadin ‘gadis pujaanku’, baru hari
ini lah aku beranikan diri untuk mengatakan perasaanku padanya. Aku sudah hafal
betul dia sedang dimana saat ini. Setiap sore dia punya rutinitas khusus
memandangi langit sore ditepi danau, hobinya.. hobby yang sangat cantik
menurutku.. tanpa ragu aku berangkat menuju danau,
Benar bukan kataku, dia sedang
berada di danau, ah siluet itu sungguh serasi dengan dilator belakangi langit
senja yang begitu jingga. Indah sungguh indah.
“Melamun ditepi danau lagi ?”
tanyaku dari belakang “nanti di gangguin sama hantu danau baru tau rasa”
candaku
“Are, haha aku sedang berkencan
dengan hantu danau, asal kamu tau” dia tertawa
Aku suka melihat tawanya.. aku
duduk disampingnya ..
“Adin?”
“ iya re ?”
“Aku suka kamu”
Nadin tak menjawab, ia hanya
menatap mataku. Seolah-olah dia melihat orang lain ..
“Aku pernah terluka oleh orang
yang aku suka Din, 3 tahun aku tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun,
tapi semenjak aku bertemu dengan mu semuanya berbeda, aku menemukan diriku
sendiri didalam dirimu”
“Nadin, maukah kamu jadi teman
hidupku. Selamanya ?”
Nadin tersenyum lalu mengangguk
“Semuanya ada padamu re, termasuk diriku”
…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar