Rabu, 11 November 2015

Jiwa Muda yang Berkarya

kemarin iseng-iseng buka-buka dokumen lawas eh nemu ini nih :D cerpen pertama.. eh bukan ding.. ini cerpen waktu ada lomba karya tulis disekolah rangka memperingati hari Pahlawan ... oh ya selamat hari pahawan ( telat ? gapapa yah ::) ). Omong-omong soal pahlawan.. pahlawan gue saat ini ya ibu sama ayah gue.. mereka berdua itu manusia-manusia terhebat... love you mih, pa...
gue post-in ini buat mengenang para pahlawan. Inget ya! buat pahlawan bukan mantan..



SAATNYA JIWA MUDA YANG BERKARYA
          Saat itu minggu pagi, cuaca tampak cerah. Angin sepoi berhembus membelai wajahku, membuatku yang tengah duduk diteras depan rumah menguap berulang kali. Dari tadi aku mencoba membuat puisi tapi tak kunjung selesai. Huh jangankan selesai mencoba menemukan ide untuk menentukan temanya saja aku tak kunjung dapat, malah aku diserang rasa kantuk gara-gara angin sepoi ini.
Ayah yang tengah memperhatikanku terkantuk-kantuk diteras depan rumah datang menghampiriku.
          “Kamu sedang apa bil? Ayah perhatikan kamu dari tadi bengong terus” Tanya ayahku
Ayah tidak tau sebenarnya aku bukan bengong melainkan mencoba mencari ide diantara rasa kantukku ini.
          “Aku bingung yah..”
          “Bingung kenapa?”  Tanya ayah penuh perhatian. Ayah menunggu aku untuk bercerita kenapa aku kebingungan.
          “Aku dapat tugas dari sekolah untuk membuat karya sastra tulis. Tapi dari tadi aku tak kunjung dapat ide. Aku bingung mau buat apa yah” keluhku pada ayah, saat itu kira-kira umurku masih Sembilan tahun. Ayah menanggapi keluhanku hanya dengan tersenyum.
          “kamu tau Muhammad Yamin ? Tanya ayahku.
          Muhammad Yamin ?  apa hubungannya sama Muhammad Yamin kataku dalam hati.
          “Dia pahlawankan yah?” jawabku dengan nada seperti orang bertanya.
          “iya.. “Kamu mau mendengarkan ceritanya ?” Tanya ayahku.
Tanpa menunggu jawaban apakah aku mau atau tidak mendengarkan ceritanya. Ayah memulai ceritanya..
          “Mr. Prof. Muhammad Yamin. SH. Beliau lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat tanggal 24 Agustus 1903. Beliau dikenal dengan pahlawan perjuangan. Tapi sebenarnya beliau juga merupakan salah satu perintis puisi modern di Indonrsia”
          “Benarkah yah?” Tanyaku mulai tertarik pada cerita ayah. Ayah melanjutkan kembali ceritanya.
          “Karyanya yang pertama ditulis dalam bahasa melayu. Karya awalnya masih terikat pada bentuk-bentuk bahasa melayu klasik”
          “Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia ayah?”
          “Karena pada saat itu Bahasa Indonesia belum menjadi bahasa nasional” jelas ayahku dengan lembut.
          “Memangnya kapan bahasa Indonesia dijadikan bahasa nasional yah?”  Ayah tersenyum menanggapi pertanyaanku.
          “Setelah Sumpah Pemuda nak. “  lalu ayah pun kembali meelanjutkan ceritanya setelah tadi terpotong oleh pertanyaanku.
          “Pada tahun 1922, Muh. Yamin muncul untuk pertama kalinya sebagai penyair dengan puisinya yang berjudul  ‘Tanah Air’. Himpunannya yang kedua, yaitu Tumpah Darahku muncul pada tanggal 28 Oktober 1928. Kamu tau nak ada kejadian penting apa yang terjadi pada tanggal 28 oktober ?” Tanya ayah. Yang kukira sedang mengetes pengetahuanku.  Kujawab dengan yakin bahwa pada tanggal itu terjadi peristiwa Sumpah Pemuda. Mendengar jawabanku yang benar ayah tersenyum. Ayah kembali bercerita
          “Tumpah Darahku merupakan karya beliau yang penting karena dari segi sejarah pada waktu itu Muh. Yamin dan beberapa pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal”
Kantukku telah benar-benar hilang dan digantikan dengan rasa penasara akan cerita ayah selanjutnya.
          “Setelah menyelesaikan sekolahnya dan mendapatkan ijazah dalam bidang hukum Muh. Yamin mulai masuk  dalam dunia politik. Beliau juga mendesak supaya bahasa Indonesia dijadikan asas untuk bahasa kebangsaan. Semenjak itu bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi kita serta alat utama dalam kesusastraan inovatif”
          “wah.. Muhammad Yamin hebat ya, yah.. berarti karena beliau kita jadi memiliki bahasa persatuan, yang menyatukan seluruh warga Indonesia hingga saat ini.” Lagi-lagi ayah tersenyum mendengar ucapanku. Ia kembali bercerita
          “Pada semasa pendudukan Jepang..-
          “Pada tahun berapa itu yah?” tanyaku memotong ucapan ayah
          “Sekitar tahun 1942 sampai 1945. Pada saat itu Muh. Yamin bertugas dipusat tenaga rakyat yang disingkat PUTERA”
          “PUTERA itu apa yah?”
          “Putera itu sebuah organisasi nasionalis yang disokong oleh pemerintahan Jepang. Setelah Indonesia merdeka dan Pak Soekarno menjadi presiden Muh. Yamin dilantik untuk jabatan-jabatan yang penting  dalam pemerintahan pak Soekarno dan Hatta.”
          “wah Muh. Yamin itu hebat ya, Yah. Sekarang aku jadi punya ide. Aku akan buat puisi tentang pahlawan saja” ucapku sambil melai menulis pada buku tugas sekolah. Ayah hanya tersenyum memperhatiakanku.

…………….
          “Jadi begitu To, yang dulu pernah ayah ceritain padaku dulu” kataku pada anto setelah selesai menceritakan cerita ayah tentang pahlawan pada saat aku kecil dulu.
          “Ayah lo kayanya tau banyak tentang pahlawan ya bil’
          “Kata ayah. Bangsa yang besar itu bangsa yang tidak melupakan para pahlawannya”
          “Sekarangkan Indonesia sudah merdeka Bil, berarti kita sudah tidak bias jadi pahlawan ya Bil”
          Aku tersenyum  “Pahlawankan bukan hanya berperang melawan bangsa asing. Tapi masih banyak yang harus kita lawan dimasa kini. So, kita masih bias jadi pahlawan To’
          “Lalu kalau bukan melawan bangsa asing kita melawan siapa? Gimana caranya kita jadi pahlawan?”
          “kita bias melawan segala bentuk kebodohan yang menjajah negri kita tercinta ini. Caranya yaitu dengan belajar bersungguh-sungguh. Karena dengan belajar bersungguh-sungguh kita bisa melawan segala macam bentuk penjajahan modern. Kalo bukan kita para generasi muda Indonesia siapa lagi yang akan melindungi negri tercinta ini.”
          “iya kamu benar bil. Kita sebagai generasi muda harus banyak berkarya untuk Indonesia yang lebih maju.”
          “NABIL.. ANTO KALIAN MAU NGOBROL APA MAU BANTUIN KITA NGEDEKOR BUAT ACARA ULANG TAHUN SEKOLAH KITA BESOK”
Teriakan Via menghentikan obrolan kami saat itu. Kami berdua pun berlari menghampiri Via yang sedang sibuk mendekor lapangan sekolah dengan berbagai kreasi..
Inilah saatnya jiwa muda yang berkarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar