gue post-in ini buat mengenang para pahlawan. Inget ya! buat pahlawan bukan mantan..
SAATNYA JIWA MUDA YANG BERKARYA
Saat itu
minggu pagi, cuaca tampak cerah. Angin sepoi berhembus membelai wajahku,
membuatku yang tengah duduk diteras depan rumah menguap berulang kali. Dari
tadi aku mencoba membuat puisi tapi tak kunjung selesai. Huh jangankan selesai
mencoba menemukan ide untuk menentukan temanya saja aku tak kunjung dapat,
malah aku diserang rasa kantuk gara-gara angin sepoi ini.
Ayah yang tengah memperhatikanku terkantuk-kantuk diteras
depan rumah datang menghampiriku.
“Kamu sedang
apa bil? Ayah perhatikan kamu dari tadi bengong terus” Tanya ayahku
Ayah tidak tau sebenarnya aku bukan bengong melainkan mencoba
mencari ide diantara rasa kantukku ini.
“Aku bingung
yah..”
“Bingung
kenapa?” Tanya ayah penuh perhatian.
Ayah menunggu aku untuk bercerita kenapa aku kebingungan.
“Aku dapat
tugas dari sekolah untuk membuat karya sastra tulis. Tapi dari tadi aku tak
kunjung dapat ide. Aku bingung mau buat apa yah” keluhku pada ayah, saat itu
kira-kira umurku masih Sembilan tahun. Ayah menanggapi keluhanku hanya dengan
tersenyum.
“kamu tau
Muhammad Yamin ? Tanya ayahku.
Muhammad Yamin ? apa
hubungannya sama Muhammad Yamin kataku dalam hati.
“Dia
pahlawankan yah?” jawabku dengan nada seperti orang bertanya.
“iya.. “Kamu
mau mendengarkan ceritanya ?” Tanya ayahku.
Tanpa menunggu jawaban apakah aku mau atau tidak mendengarkan
ceritanya. Ayah memulai ceritanya..
“Mr. Prof.
Muhammad Yamin. SH. Beliau lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat tanggal 24
Agustus 1903. Beliau dikenal dengan pahlawan perjuangan. Tapi sebenarnya beliau
juga merupakan salah satu perintis puisi modern di Indonrsia”
“Benarkah
yah?” Tanyaku mulai tertarik pada cerita ayah. Ayah melanjutkan kembali
ceritanya.
“Karyanya yang
pertama ditulis dalam bahasa melayu. Karya awalnya masih terikat pada
bentuk-bentuk bahasa melayu klasik”
“Kenapa tidak
menggunakan bahasa Indonesia ayah?”
“Karena pada
saat itu Bahasa Indonesia belum menjadi bahasa nasional” jelas ayahku dengan
lembut.
“Memangnya
kapan bahasa Indonesia dijadikan bahasa nasional yah?” Ayah tersenyum menanggapi pertanyaanku.
“Setelah
Sumpah Pemuda nak. “ lalu ayah pun
kembali meelanjutkan ceritanya setelah tadi terpotong oleh pertanyaanku.
“Pada tahun
1922, Muh. Yamin muncul untuk pertama kalinya sebagai penyair dengan puisinya
yang berjudul ‘Tanah Air’. Himpunannya
yang kedua, yaitu Tumpah Darahku muncul pada tanggal 28 Oktober 1928. Kamu tau
nak ada kejadian penting apa yang terjadi pada tanggal 28 oktober ?” Tanya
ayah. Yang kukira sedang mengetes pengetahuanku. Kujawab dengan yakin bahwa pada tanggal itu
terjadi peristiwa Sumpah Pemuda. Mendengar jawabanku yang benar ayah tersenyum.
Ayah kembali bercerita
“Tumpah
Darahku merupakan karya beliau yang penting karena dari segi sejarah pada waktu
itu Muh. Yamin dan beberapa pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati
satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal”
Kantukku telah benar-benar hilang dan digantikan dengan rasa
penasara akan cerita ayah selanjutnya.
“Setelah
menyelesaikan sekolahnya dan mendapatkan ijazah dalam bidang hukum Muh. Yamin
mulai masuk dalam dunia politik. Beliau
juga mendesak supaya bahasa Indonesia dijadikan asas untuk bahasa kebangsaan.
Semenjak itu bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi kita serta alat utama dalam
kesusastraan inovatif”
“wah..
Muhammad Yamin hebat ya, yah.. berarti karena beliau kita jadi memiliki bahasa
persatuan, yang menyatukan seluruh warga Indonesia hingga saat ini.” Lagi-lagi
ayah tersenyum mendengar ucapanku. Ia kembali bercerita
“Pada semasa
pendudukan Jepang..-
“Pada tahun
berapa itu yah?” tanyaku memotong ucapan ayah
“Sekitar tahun
1942 sampai 1945. Pada saat itu Muh. Yamin bertugas dipusat tenaga rakyat yang
disingkat PUTERA”
“PUTERA itu
apa yah?”
“Putera itu
sebuah organisasi nasionalis yang disokong oleh pemerintahan Jepang. Setelah
Indonesia merdeka dan Pak Soekarno menjadi presiden Muh. Yamin dilantik untuk
jabatan-jabatan yang penting dalam
pemerintahan pak Soekarno dan Hatta.”
“wah Muh.
Yamin itu hebat ya, Yah. Sekarang aku jadi punya ide. Aku akan buat puisi
tentang pahlawan saja” ucapku sambil melai menulis pada buku tugas sekolah.
Ayah hanya tersenyum memperhatiakanku.
…………….
“Jadi begitu
To, yang dulu pernah ayah ceritain padaku dulu” kataku pada anto setelah selesai
menceritakan cerita ayah tentang pahlawan pada saat aku kecil dulu.
“Ayah lo
kayanya tau banyak tentang pahlawan ya bil’
“Kata ayah.
Bangsa yang besar itu bangsa yang tidak melupakan para pahlawannya”
“Sekarangkan
Indonesia sudah merdeka Bil, berarti kita sudah tidak bias jadi pahlawan ya
Bil”
Aku
tersenyum “Pahlawankan bukan hanya
berperang melawan bangsa asing. Tapi masih banyak yang harus kita lawan dimasa
kini. So, kita masih bias jadi pahlawan To’
“Lalu kalau
bukan melawan bangsa asing kita melawan siapa? Gimana caranya kita jadi
pahlawan?”
“kita bias
melawan segala bentuk kebodohan yang menjajah negri kita tercinta ini. Caranya
yaitu dengan belajar bersungguh-sungguh. Karena dengan belajar
bersungguh-sungguh kita bisa melawan segala macam bentuk penjajahan modern.
Kalo bukan kita para generasi muda Indonesia siapa lagi yang akan melindungi
negri tercinta ini.”
“iya kamu
benar bil. Kita sebagai generasi muda harus banyak berkarya untuk Indonesia
yang lebih maju.”
“NABIL.. ANTO KALIAN MAU NGOBROL APA MAU BANTUIN KITA
NGEDEKOR BUAT ACARA ULANG TAHUN SEKOLAH KITA BESOK”
Teriakan
Via menghentikan obrolan kami saat itu. Kami berdua pun berlari menghampiri Via
yang sedang sibuk mendekor lapangan sekolah dengan berbagai kreasi..
Inilah
saatnya jiwa muda yang berkarya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar