Kamis, 03 Maret 2016

Senja yang Terluka



Sekarang semuanya telah berbeda, tak ada canda tawa atau hanya sekedar gurauan sederhana seperti biasanya saat saling berpapasan. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, semuanya memang telah berubah. Aku tau hidup memang tak pernah stagnan pada satu tempat semuanya pasti akan berubah, tapi yang aku sayangkan mengapa harus secepat ini ? dan mengapa kamu salah satu yang telah berubah itu ?
                Mau tidak mau, siap tidak siap aku harus memulainya lagi seorang diri, melanjutkan perjalanan yang sekarang tampa jejak kamu lagi. Merelakan genggaman erat yang biasanya menghangatkan tanganku kala kita berjalan di tengah badai nan gelap. Di persimpangan ini kita telah benar-benar berpisah.
                Tak mudah bagiku untuk melanjutkan kembali melanjutkan perjalanan ini seorang diri, aku sadar aku harus biasakan diri tampa hadirmu.
                “kita tak bisa melanjutkan semua ini.. maaf sebaiknya kita berakhir disini”
Aku menatap matanya, mengigit bibir bawahku bingung mau menjawab apa..
                “tapi aku harap kita bisa berakhir dengan baik-baik,  aku ingin kita tetap seperti dulu..”
Aku menatap matanya dengan lekat “ Seperti dulu ? kamu pikir setelah sekian lama waktu yang telah kita lewatin bersama, dan… “ kata kataku terputus  “dan… kamu berharap kita masih bisa seperti biasanya ? itu mustahil “ 
Dia terdiam…  “ Ra… aku ingin kita masih bisa seperti dulu.. karena aku masih sayang sama kamu”
Muka ku rasanya panas sekali saat itu.. aku sudah tidak bisa lagi menahan emosiku. Aku mentapnya sinis, tanpa bisa ku cegah aku menangis depan dia, suaraku sedikit tinggi “ kalo kamu sayang sama aku, kenapa kamu tinggalin aku? Kenapa kamu memilih mengakhiri ini semua ?”
                “kamu ga ngerti ra “ ucapnya sambil menghela nafas
                “apa ? apa yang aku gangerti  din?” aku masih menahan air mata untuk tidak keluar
                “aku mau pacaran serius sama kamu kalo aku udah sukses” ucapnya.. ia menatap mataku dengan sayu “ jadi kamu mau kan nungguin aku sampe sukses? Aku akan datang lagi” ia memegang tanganku.
                “kamu tau, aku selalu sayang kamu din..
                “jadi kamu mau nungguin aku ?” tanyanya menatap wajahku
                “iya…”
                                                                                ……………………………………
730 hari setelah kau memintaku untuk menunggumu.. hari ini  kita kembali bertemu dilatari senja nan indah.. aku bingung kenapa kau memilih senja ini. Selama kita bersama kau tak pernah mengajakku menikmati senja sekalipun kau tau bahwa aku begitu menyukai senja..
1800 detik kita saling diam, entah apa yang ada di benakmu.. kau hanya diam. aku tak bisa menebaknya tapi pandangan matamu tak sama seperti saat kau memintaku untuk menunggu. Aku dibuat gelisah dengan situasi ini..
“Din.. “ ucapku memecah hening .
“berapa lama lagi aku harus menunggu? “
Dia mentapku
“aku butuh kepastian.. aku gabisa lama-lama seperti ini..”
“kamu bisa menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang kamu suka, aku juga disana menjalin hubungan dengan perempuan lain” ucapnya
Deggg… jantungku berdegup dengan cepat, mukaku seketika terasa panas…
Aku menatapnya… air mata ku mengalir tanpa bisa aku cegah
“jadi selama ini apa ? kenapa kamu menyuruh aku menunggu jika akhirnya akan ditinggalkan din? Kenpa?” ucapku marah
Dia  diam… dan memalingkann wajahnya pada langit.
*hening beberapa saat…*
“Din, rasa sayang aku ke kamu itu seperti pohon kecil.. ia akan terus tumbuh bila dirawat dan dipelihara dengan baik.. iya meskipun tak dirawat dan dijaga ia akan tetap tumbuh tapi tumbuhnya tidak sehat din, dia akan mati kekeringan atau mungkin terkena hama”  ucapku setelah berhasil menguasi emosi..
“aku sayang kamu din, itu sebabnya aku bertahan menunggumu.. tapi kamu sekali lagi melukaiku” ucapku tersenyum..
“ra.. maaf”
“aku menyukai perempuan lain dan aku mau serius dengan dia” ungkapnya dengan wajah tanpa dosa
Aku menatapnya, ia masih memalingkan wajahnya..
Beberapa saat kemudian ia menatap mataku, “ada hal yang tak sesuai rencana ra, maaf! Sekali lagi maaf aku sudah buat kamu kecewa untuk kesekian kalinya. Aku tetap sayang kamu ra!”
Aku menatapnya mencoba mencari kebenaran tentang hal yang saat ini terjadi dari matanya.. ia masih menatapku  “aku sayang sama kamu ra, sama seperti aku sayang sodara aku yang lain”
‘sodara ?”
“jadi selama ini kamu anggap aku sodara hahha…. “ entah mengapa rasanya aku ingin tertawa
“aku terlalu berharap sama kamu din, maaf! …
Dia menatapku…
“ini gabakal mudah buat aku.. tapi aku akan berusaha buat lupain rasa aku. Terimakasih din, kamu pernah hadir membuat aku bahagia walau akhirnya  kamu menyisakan luka ini.. perlu kamu tau aku menyayangimu tulus, tapi kamu ga usah khawatir perlahan aku pun bakal lupa koq”  aku tersenyum..
Pahit rasanya mengakui kekalahan ini.. aku merasa telah kalah meski aku tak tau bertarung melawan siapa..
“semoga bahagia din, genggamlah tangannya erat agar kau takan merasakan sakitnya ditinggalkan din..
“terimakasih buat semuanya.”
Aku bangkit dan berlalu meninggalkannya seorang diri di sana dengan senja .. ini alasanmu membuatku luka disenja hari agar aku masih bisa tertawa saat luka itu berdarah… atau ini cara mu agar saat aku melihat senja luka ini akan teringat kembali…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar